Sariagri - Bawang merah jadi satu diantara bahan penting bumbu beberapa masakan nusantara. Mulai dengan rumah tangga, pedagang sayur, sampai pelaksana usaha kulineran memerlukan bawang merah tiap harinya.
Keinginan yang tinggi itu nyatanya jadi kemungkinan usaha buat Aditya Nugroho (22), seorang pemuda asal Grobogan, Jawa tengah.
Bawang Merah Mahasiswa tingkat akhir jalur Ekonomi serta Sumberdaya Lingkungan, IPB University ini sudah baik menjalani pekerjaan selaku petani bawang merah.
Udah 1 tahun lebih Adit, panggilan akrabnya, geluti tugas menjadi petani bawang merah. Lebih benarnya saat endemi COVID-19 mulai berlangsung dan perkuliahan dikerjakan secara online, Adit pulang ke desa halaman serta memulai menanam bawang merah.
"Karena saya saksikan kesempatan , bawang merah punyai nilai ekonomi tinggi dan jadi kepentingan yang terbanyak dipakai. Disamping itu, lantaran saya tonton biasanya petani di sini yaitu orang-tua, itu pun jadi kemungkinan untuk saya jadi petani muda serta menurut saya pertanian itu upaya yang gak ada selesainya," kata Adit terhadap Sariagri, Jumat (13/8).
Adit mengungkap, awal mulanya ia menanam bawang di tempat selebar 8000 mtr. persegi serta sekarang tempat garapannya udah menggapai 2 hektar.
"Awalannya saya atur 8000 mtr., saat ini Alhamdulillah udah 2 hektar," tukasnya.
Ia ceritakan, buat menanam bawang merah di tempat selebar 2 hektar butuh modal sejumlah Rp 130 juta, serta pada tempo 2 bulan ia dapat mendapati profit kira-kira Rp200 - Rp300 juta bergantung harga yang berjalan ketika panen.
"Di tempat 2 hektar saya gunakan bibit bawang merah sekitar 2,5 ton. Dari sana kelak hasilnya dapat sampai 20 ton bawang merah. Harga bawang merah paling rendah pada tingkat petani kebanyakan sekitar Rp 10 ribu dan dapat gapai RP 25 beberapa ribu bila memang kembali mahal," ujarnya.
Bawang Merah Adit katakan, varietas bawang merah yang ditanamnya sebagai varietas lokal Brebes yang menurut dia punyai kelebihan dalam kualitas dan rasa. Ia lantas menjelaskan rahasia buat mengirit cost keperluan bibit adalah dengan bikin bibit sendiri.
"Saya pula bibitin sendiri, karenanya bibit sendiri dapat pencet ongkos untuk keperluan bibit sampai lebih dari pada 50 %," jelasnya.
Seterusnya, Dia ceritakan, hal paling berat dalam budidaya bawang merah yakni pengontrolan hama dan penyakit. Menurutnya, perawatan tanaman pada gempuran penyakit di tanaman bawang merah mesti lebih mendalam dibanding tanaman yang lain, terlebih saat musim penghujan datang.
Bawang Merah "Jika musim penghujan kan banyak gempuran jamur, nach mesti rajin nyemprot serta kontrol kelembapan tempat," terangnya.
Adit mengharap, di masa datang akan bertambah banyak angkatan muda yang ingin terjun langsung jadi seseorang petani. Ia berkeinginan sesudah lulus akan selalu meneruskan pekerjaannya jadi petani dan memperlebar area garapannya. Diluar itu, ia juga merencanakan ingin meningkatkan model usahanya pada pemrosesan bawang merah, terutamanya kepada bawang merah yang mempunyai ukuran kecil yang sejauh ini dikelompokkan selaku barang reject.
"Bila kita dapat urusyang kecil serta beberapa sisa itu dapat menjadi bawang goreng kan jadi gak ada yang kebuang dan dapat meningkatkan keuntungan. Saya berharap anak muda makin banyak yang pengen menjadi petani, lantaran di pertanian itu amat memberi keuntungan kalaupun diurus secara benar," tuturnya.